Tampilkan postingan dengan label energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

d c

disalin dari >>> energisurya.wordpress

sel-surya-antariksa-iss.jpg

Sel surya merupakan sebuah bidang penelitian yang sangat luas, melibatkan berbagai disiplin ilmu dan dana investasi maupun penelitian yang besar.

Tidak kurang dari 10 jenis sel surya tengah dikembangkan saat ini. Penerapan dari teknologi sel surya sendiri sangat luas sebagai salah satu sumber energi masa depan. Mulai dari pedesaan, perkotaan hingga luar angkasa, sel surya tengah diposisikan sebagai salah satu bentuk energi ideal masa depan yang bersih yang ketersediaannya berlangsung dalam jangka waktu yang relatif panjang. Sebagai contoh, International Space Station (ISS) sebagai stasiun dan laboratorium luar angkasa memiliki sel surya sebagai sumber energi utamanya, bisa dilihat di cuplikan gambar di atas.

Teknologi sel surya dapat dikatan menyangkup banyak hal; teori mengenai proses mekanisme bekerjanya sel surya, pembuatan dan pengamatan sifat-sifat material penyusun sel, pencarian material alternatif penyusun sel, integrasi material penyusun menjadi satu sel utuh, pembuatan alat (device) sel hingga modul surya, simulasi serta optimalisasi rangkaian listrik untuk sel surya dsb dsb. Masing-masing bidang ini membutuhkan spesialisasi khusus atau displin ilmu yang berbeda untuk mewujudkan tujuan utama penelitian dan pengembangan sel surya di dunia; yakni meningkatkan efisiensi sel surya. Gambar di bawah ini ialah peta jalan (road map) efisiensi sel surya dalam kurun waktu 25 tahunan.

peta-jalan-sel-surya.jpg

Latar belakang ilmu dan rekayasa material (material science and engineering) memaksa saya untuk menekuni beberapa bidang dasar yang menunjang aktifitas penelitian sel surya; teknologi vakum (vacuum technology), teknologi lapis tipis (thin film technology), solid state physics and chemistry, semiconductor physics and devices dan sebagainya.

Bidang garapan penelitian saya sendiri ialah berkutat pada sintesis atau pembuatan material sel surya jenis lapis tipis (thin film solar cells) dengtan menggunakan jenis material tipe chalcopyrite CuInSe2 dan turunannya CuInGaSe2 sebagai bahan penyerap sinar matahari. Struktur kristal dan atom dari CuInSe2 dapat dicermati di gambar berikut. Atom Indium (In) dapat diganti dengan atom Galium (Ga) membentuk CuInGaSe2.

struktur-kristal-chalcopyrite-cuinse2.jpg

Menggunakan peralatan physical vapor deposition, lapisan penyerap sinar matahari ini dapat disintesa dengan ketebalan 1-2 micrometer. Saya menggunakan teknik sputtering (lihat skema di bawah berikut ini) untuk membuat lapisan CuInSe2 pada substrat kaca degan ketebalan sekitar 1-2 mikron.

teknik-sputtering.jpg

Aspek penelitiannya terkonsentrasi pada sintesa dan pengamatan sifat-sifat material lapis tipis yang berhasil dibuat; semisal analisa kristal struktur, analisa sifat optik dan elektrik. Perlu diketahui, lahan penelitian di bidang ini sudah menjadi sebuah hot topics di dunia sel surya.

Struktur sel surya lapis tipis CuInSe2 dapat dicermati melalui skema di bawah ini.

cis-struktur-sel.jpg

Sel tersebut terdiri atas substrat kaca yang dilapisi berturut-turut lapisan Molibdenum (Mo) setebal 1 mikron sebagai elektroda bawah (kutub positif), lapisan CuInSe2 setebal 1-2 mikron sebagai lapisan penyerap matahari (semikonduktor tipe p), lapisan CdS sebaagai lapisan buffer dengan ketebalan ~50 nanometer, lapisan ZnO (semikonducktor tipe n) sebagai lapisan transparans elektroda dengan ketebalan ~500 nanometer, dan sedikit lapisan Nikel sebagai elektroda atas (kutub negatif).

Lantas mengapa sel surya lapis tipis?

Well, hal ini dapat dimengerti mengingat semakin tipisnya material sel surya, maka semakin sedikit pula bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat sebuah sel surya. Di samping itu, sel surya konvensional jenis silikon seperti yang sekarang ini dipasarkan memiliki keterbatasan suplai bahan baku silikonnya. Dan yang juga cukup penting dipertimbangkan ialah, dengan mempelajari jenis material baru bertipe CuInSe2, potensi peningkatan sel surya merupakan sebuah keniscayaan. Secara proses produksi, pembuatan sel surya lapis tipis lebih singkat dan relatif tidak membutuhkan investasi sebesar sel surya silikon.

Melihat masih panjangnya penelitian sel surya jenis lapis tipis, CuInSe­2 ini diproyeksikan untuk apliaksi sel surya masa depan.

Beberapa hasil penelitian dari laboratorium terkait dengan pembuatan/sintesa material penyerap sinar matahari dapat di lihat di halaman Publikasi.

the sun

disalin dari >>> energisurya.wordpress

ADA kenyataan yang sulit dibantah, setengah dari 220 juta jiwa penduduk negeri ini belum menikmati penerangan listrik. Banyak alasan yang menjadikan demikian. Mulai dari ketidakmampuan pemerintah menyediakan jaringan listrik, hingga harga yang sulit terjangkau oleh warga. Sistem penerangan paling murah yang mungkin dimiliki masyarakat daerah terpencil adalah lampu cempor atau patromaks dengan bahan bakar minyak tanah.

Mengingat besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan sistem kabel, PLN kini mulai menempuh cara baru, yakni mengembangkan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). PLTS lebih diperuntukkan bagi warga desa yang belum tersentuh jaringan listrik. Pertimbangannya, meski dari sisi biaya investasi masih relatif tinggi, namun jika dibandingkan dengan membangun jaringan kabel, pengembangan PLTS lebih memungkinkan.

Segala kebutuhan

Di luar negeri, pemanfaatan energi surya melalui sistem photovoltaic sudah berlangsung lama dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di Indonesia, pengembangannya sudah dilakukan pada tahun 1980-an. Penerapan pertama pemanfaatan energi surya oleh Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang juga diresmikan oleh Presiden Soeharto di lakukan di Kec. Sukatani, Kab. Purwakarta pada 1989. Hanya, dalam perjalanannya, kebijakan pemanfaatan energi surya seperti setengah hati. Alasannya klise, skala kegiatan yang kurang ekonomis, sementara biaya investasi yang dibutuhkan sangat besar.

Ke depan, dengan kondisi topograpi wilayah yang dimiliki Indonesia, untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tampkanya akan menjadi sebuah tuntutan yang tak bisa ditawar. Selain sumber energinya (matahari) begitu melimpah sehingga pemanfaatannya tak terbatas, PLTS relatif lebih mudah dipasang dan dipelihara, ramah lingkungan, tahan lama, dan tak menimbulkan radiasi elektromagnetik yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, PLTS bisa digunakan untuk segala kebutuhan, seperti penerangan rumah tangga, pompa air, atau telekomunikasi.

Bukan itu saja. Berdasarkan hasil perhitungan Dr. Mulyo Widodo, dosen Teknik Mesin ITB yang juga penemu sistem penerangan listrik tenaga surya Solare, total biaya yang dikeluarkan pengguna PLTS relatif lebih murah daripada menggunakan energi listrik PLN dan lampu minyak tanah. Dengan menghitung biaya investasi awal, nilai depresiasi terhadap umur instalasi tiap tahun, dan biaya operasional per hari, rata-rata biaya per bulan yang harus dikeluarkan pengguna PLTS Solare SP-4 dengan 4 titik penerangan hanya mencapai Rp 7.000,00. Sedangkan rata-rata biaya yang harus dikeluarkan pengguna PLN 450 Watt Rp 32,083,33 per bulan dan lampu minyak tanah dengan empat titik penerangan Rp 14,133,33 per bulan.

Memang, dibandingkan dengan kualitas penerangan yang dihasilkan lampu TL, penerangan lampu LED masih kalah terang. Namun, jika dibandingkan dengan lampu cempor, lampu LED jelas lebih baik. “Lagi pula tidak seimbang membandingkan kualitas penerangan lampu LED dari PLTS dengan yang dihasilkan listrik PLN. Janganlah mengukur itu semua dengan kacamata orang kota. Lihatlah manfaatnya bagi penduduk yang puluhan tahun tak pernah menikmati penerangan listrik,” kata Mulyo.

Cukup sederhana

Cara kerja PLTS cukup sederhana. Pancaran sinar matahari ditangkap oleh sebuah panel dan diubah menjadi energi listrik. Energi itu disimpan dalam sebuah baterai (aki) yang bisa digunakan sebagai sumber penerangan pada malam hari atau saat tak ada sinar matahari. Kemampuan energi yang dapat dibangkitkan oleh sebuah panel surya sangat bergantung kepada kondisi radiasi sinar matahari. Sistem PLTS adalah sistem arus searah (DC) sehingga peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan arus searah tegangan nominal 12/24 volt.

Besar kecilnya energi yang dihasilkan dari radiasi sinar matahari akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pancaran sinar, lebar dan kualitas bahan panel surya penerima sinar. “Ada beberapa jenis panel surya, dari yang kualitasnya paling baik dan harganya mahal hingga yang biasa-biasa saja dan murah. Yang paling baik itu monokristal, harganya mahal dan biasa digunakan oleh lembaga strategis. Yang banyak di pasaran adalah polikristal,” jelas Gusrilizon, salah seorang ahli sistem tenaga surya PT LEN Industri.

Berdasarkan hasil perhitungan Mulyo Widodo, dalam kondisi peak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas 1 meter persegi setara dengan daya 1.000 watt atau 900 watt. Dengan bahan panel surya yang monokristal dan poli-kristal, sistem photovoltaic bisa mengkonversi daya sebesar 900-1000 watt itu menjadi energi listrik sebesar 17 %. Jadi, dalam kondisi pancaran sinar yang peak (cerah dan posisi matahari tegak lurus dengan permukaan panel penerima), satu panel surya seluas 1 meter persegi akan menghasilkan daya sebesar 170 watt.

Dengan rumus tersebut, akan mudah menentukan berapa luas bahan panel surya dibutuhkan untuk menghasilkan daya listrik sesuai kebutuhan. Atau sebaliknya, dari rumus itu juga bisa menentukan berapa besarnya daya listrik yang dihasilkan dari sebuah bahan panel surya dengan ukuran tertentu. Faktor inilah yang menjadikan sistem tenaga surya masih relatif mahal karena struktur biaya PLTS masih didominasi oleh harga panel surya. Makin besar dan luas panel surya, energi yang dihasilkan memang makin besar, namun harga yang harus dibayar juga makin mahal.

Dalam aplikasinya, PLTS bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari sistem penerangan rumah tangga (solar home system), lampu penerangan jalan (solar street lamp), wartel satelit tenaga surya (solar satellite public phone), pembangkit listrik tenaga hibrida (hybrid solar diesel), hingga system pompa air tenaga surya (solar pumping system). Di samping itu, bisa juga digunakan untuk para nelayan, penerangan di bagan apung atau tancap, puskesmas terpencil, penerangan pos keamanan, camping dan kegiatan outdoor, hingga sistem pengisian baterai radio komunikasi di lapangan.

Saat ini, selain PT LEN Industri yang merupakan lembaga milik pemerintah, perusahaan swasta yang bergerak dalam pengembangan PLTS adalah Solare Indonesia. Dua perusahaan tersebut menghasilkan produk dengan segmen pasar berbeda. Produk buatan LEN umumnya berukuran relatif besar, minimal 50 WP untuk skala rumah. Telah terpasang lebih dari 250 kWP yang terdiri dari hampir 50.000 unit PLTS yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Khususnya di daerah-daerah terpincil di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Berbeda dengan LEN yang masih ditujukan untuk skala besar, PT Solare Indonesia mengembangkan sistem penerangan PLTS berskala kecil dengan target rumah-rumah penduduk dengan ukuran lebih kecil dan harga relatif terjangkau. Pada sistem Solare terdapat dua komponen yang “dibuang” yakni inventer dan sistem kontrol baterai atau battery control unit (BCU) sehingga harganya relatif lebih murah. Selain itu, jenis lampu yang digunakan bukanlah lampu TL, tetapi LED (light emitting diode) yang lebih awet. PT LEN sendiri masih menggunakan konfigurasi PLTS konvensional dengan jenis lampu TL.

“Sistem Solare sangat sederhana dan mudah digunakan. Ini adalah teknologi tepat guna yang dirancang sangat simpel dan aplikatif untuk masyarakat pedesaan atau siapa pun yang menggunakannya,” jelas Anton S. Tirto, Direktur Citra Surya Utama, distributor Solare. Produk Solare sudah digunakan di berbagai tempat seperti Kampung Cigumentong (Sumedang) dan daerah translok Kertajati (Majalengka) bersama dengan produk LEN. Selain itu, digunakan pula di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, serta sejumlah tempat lain di tanah air.

Terlepas dari adanya dua perbedaan antara dua produk, tetap saja keduanya memberi andil sangat besar dalam membantu memutus keterisolasian penduduk negeri ini yang belum terjamah. Keduanya memang berbeda karena filosofi yang menjadi dasar bagi kedua perusahaan itu juga berbeda. Justru, dari perbedaan spesifikasi itu pula, bisa dicapai nilai ekonomis dan efisiensi penggunaan PLTS.

Untuk sistem penerangan rumah-rumah penduduk yang jarak antarrumah berjauhan, sistem Solare lebih cocok. Apalagi jika dikaitkan dengan faktor harga. Sedangkan untuk daerah-daerah dengan rumah penduduk terkonsentrasi dan jarak antarrumah tak berjauhan, pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) atau hybrid solar diesel (HSD) buatan LEN lebih cocok.

HSD adalah salah satu alternatif sistem PLTS, yakni dengan mengombinasikan antara energi matahari dengan diesel/generator sel (genset) sehingga menghasilkan energi listrik yang lebih efektif dan efisien. Pada sistem ini, satu sistem PLTH bisa menghasilkan energi listrik yang dibagi-bagi ke rumah-rumah penduduk. Saat ini, sudah ada 14 lokasi di Indonesia yang menggunakan hybrid solar diesel, yakni 8 unit di Sulawesi Tengah dan 6 unit di Sulawesi Tenggara. “Di Indramayu juga ada, tapi tak terurus,” kata Gusrilizon.

Harus diakui, peibangunan PLTS masih butuh investasi besar. Maklum saja, beberapa komponen mulai dari panel surya, aki, hingga lampu LED masih harus didatangkan dari luar negeri. Padahal, seperti diakui Gusrilizon dan Mulyo Widodo, para pakar Indonesia sudah mampu membikin sendiri. Apalagi sejumlah bahan baku, seperti silica untuk pembuatan panel surya, juga tersedia melimpah di tanah air.

“Untuk skala laboratorium kita (LEN) sudah mampu bikin sendiri panel surya. Yang jadi persoalan adalah belum bisa mencapai skala efisiensi karena kita tak punya pabrik untuk menghasilkan secara missal,” kata Gusrilizon. (Muhtar IT/”PR”)***

(Digunting-tempel dari Kolom Cakrawala, Pikiran Rakyat )

sel surya

disalin dari >>> energisurya.wordpress

Bisakah sel surya memberi pengaruh siginifikan pada aktifitas keseharian kita? Ataukah sel surya sebagai sebuah produk teknologi mampu menigkatkan taraf hidup umat manusia sebagaimana tujuan dari sains dan teknologi itu sendiri? Mengingat perannya sebagai sebuah sumber listrik atau sumber energi, apa saja yang dapat dilakukan oleh sel surya untuk menopang aktifitas jika kita mulai melepaskan diri dari ketergantungan sumber listrik konvensional semisal listrik dari perusahaan listrik yang mengambil listrik dari pembangkit listrik konvensional puila? Tulisan kali ini bertujuan mengupas secara ringkas pemanfaatan sel surya dalam mensuplai energi listrik sehari-hari, potensi aplikasinya berikut model-model produk berbasis sel surya.

Meski pada awalnya, pemanfaatan sel surya lebih banyak difokuskan pada sektor rumah tangga (lihat : Ramai-ramai membangun hunian swadaya energi) namun akhir-akhir ini beberapa aplikasi baru dari sel surya bermunculan. Aplikasi baru tersebut tidak lain berupa terobosan-terobosan produk elektronik yang memanfaatkan sel surya sebagai sumber tenaganya. Adanya terobosan atau inovasi produk yang didukung oleh sel surya diyakini didorong oleh karakteristik unik sel surya yang memilki mobilitas tinggi serta akses mudah hampir setiap sudut bumi terhadap sinar matahari, yang ujung-ujungnya membawa serta celah-celah pasar baru untuk produk inovasi teknologi.

Hanya saja, menurut pengamatan penulis, sel surya saat ini masih dalam skema peran sebagai produk komplementer dari pembangkit listrik konvensional yang sudah mapan, bukan merupakan pilihan utama itu sendiri. Kehadiran sel surya sebagai sumber listrik sejauh ini baru difokuskan untuk menutup kelemahan jaringan instalasi kabel listrik yang sering menemui hambatan dalam menjangkau daerah terpencil-pedalaman (remote area), pulau-pulau kecil dengan sedikit penghuni untuk kasus tanah air kita, pegunungan dengan minimnya jaringan listrik atau hanya merupakan bagian dari program pemberdayaan komunitas yang digiatkan oleh pemerintah atau NGO/LSM alih-alih murni pendekatan pemasaran atas dasar bisnis.

1. Pompa air bertenaga surya (solar powered water pump)

Sebagaimana namanya, pompar air yang berfungsi menyedot air dari dalam tanah ini digerakkan dengan tenaga surya. Secara fisik, fungsi maupun instalasi pompa air ini tidak ubahnya pompa air konvensional. Hanya saja, perbedaan mencolok ada pada panel surya silikon yang menggenapi sistem pompa air sebagai sumber listrik yang menggerakkan pompa, sebagaimana terlihat di Gambar 1 berikut. Konsep dari pompa air bertenaga surya ini ialah sebuah pompa yang diperuntukkan bagi daerah yang terisolasi atau jauh dari jaringan instalasi listrik. Konsep ini dirasakan efektif mengingat penggunaan secara kolektif pompa air bertenaga surya ini akan mereduksi beban biaya akibat keberadaan panel surya yang tidak murah.

solar-pump.jpg

Gambar 1. Contoh produk pompa air bertenaga surya.

Dibandingkan dengan pompa air dengan tenaga listrik konvensional, pompa air bertenaga surya ini menggunakan arus searah (arus DC) tidak seperti pompa konvensional yang berarus bolak balik (AC). Hal ini mengingat panel surya yang digunakan sebagai sumber listrik memiliki output arus DC dan tidak memilki pengubah arus DC-AC sebagaimana listrik yang terinstalasi di perumahan. Pada umumnya pompa air ini memerlukan panel surya dengan daya keluaran 75-100 Watt dan didukung oleh baterei 12 volt agar pompa dapat bekerja di malam hari pula. Kedalaman air yang dapat dicapai secara efektif oleh pompa ini berkisar 50-70 m dengan debit air maksimum hingga 275 liter per jam.

Konsumen dapat memilih dua jenis pompa ini, yakni pompa yang terletak di atas permukaan tanah atau pompa yang diletakkan/dipendam di bawah permukaan tanah. Kapasitas pompa beserta panel surya yang digunakan sangat tergantung dari kondisi operasi semisal kedalaman air di bawah tanah, berapa banyak debit air yang dibutuhkan serta tentu saja biaya. Penempatan pompa air bertenaga surya ini di Indonesia sudah dicoba di daerah kering minim hujan seperti di Nusa Tenggara Barat mapupun daerah Bantul DIY.

2. Kulkas bertenaga surya (Solar powered refrigerator)

Pernahkah kita membayangkan sebuah situasi ekstrim; bencana alam atau gempa yang melanda sebuah daerah, membuat daerah tersebut terisolasi dari luar baik perhubungan, telekomunikasi maupun dari instalasi listrik utama. Atau katakanlah sebuah daerah terpencil di pedalaman Sumatera atau Sulawesi yang memutuhkan tim kesehatan guna memeriksa kesehatan penduduk setempat di mana masalah listrik menjadi kendala utama. Dua situasi di atas yang berkaitan dengan penanganan pasca-bencana alam atau pemenuhan kebutuhan kesehatan penduduk merupakan salah satu pendorong ditemukannya sebuah lemari pendingin yang “portable” plus “mobile”yang dibawa oleh tim medis tanpa perlu bergantung pada ada atau tiadanya suplai listrik. Suplai listrik yang menopang beroperasinya lemari pendingin ini berasal dari sel surya pula, yang dapat dibawa dan dipasang dengan mudah (lihat Gambar 2). Sebagai sebuah peralatan medis, lemari pendingin ini berfungsi untuk menyimpan vaksin maupun obat-obatan dan makanan.

solar-refrigerator.jpg

Gambar 2. Lemari pendingin bertenaga surya untuk keperluan medis di daerah terpencil.

Sistem lemari pendingin bertenaga surya ini terdiri atas empat komponen utama; yakni panel surya, baterei, lemari pendingin dan kontrol pengisian listrik (“charge controller”). Panel surya yang dipergunakan biasanya berdaya 800 Watt untuk lemari pendingin berdaya 600 Watt. Baterei cadangan yang dipergunakan memiliki 105 Ah sebanyak 6-8 buah. Konon harga sebuah sistem lemari pendingin lengkap ini ialah US$ 5000.

(Bersambung)

penghematan

disalin dari >>> rumahpurwananda.wordpress

Headline di beberapa surat kabar beberapa waktu yang lalu hampir sama, yaitu: PERTAMINA MENAIKKAN HARGA ELPIJI 12 KG dan 50 KG.

Haduhhh, apa-apa naik, padahal baru menjelang puasa. Harga daging ayam sudah Rp 26 ribu/kg, harga cabe sudah Rp 30-40 ribu/kg, harga telur Rp 16 ribu/kg, eh ini harga elpiji juga naik jadi Rp 69 ribu/12 kg. Gimana nggak pusing, padahal biasanya menjelang lebaran semuanya naik lagi. Para ibu di seluruh Indonesia, seperti juga saya, pasti langsung putar otak, pos mana lagi nih yang bisa menghemat pengeluaran. Lha, sekarang aja udah berhemat, jadi judulnya harus SUPER HEMAT dong. :(

DO YOU KNOW?

Telepon, listrik, dan air adalah pos-pos pengeluaran yang punya kecenderungan untuk jadi besar kalau Anda tidak berhati-hati. Kenapa demikian? Selain karena ketiganya adalah fasilitas yang akan menunjang keberlangsungan hidup di rumah Anda, alasan lainnya adalah karena pembayaran ketiga pos tersebut dilakukan belakangan. Segala sesuatu yang pembayarannya dilakukan belakangan, biasanya akan terasa berat ketika Anda harus membayarnya di akhir.

Langsung browsing cari tips hemat buat segala hal, mulai dari hemat listrik, air, BBM dan sebagainya. Siapa tahu perilaku saya selama ini masih jauh dari yang dikatakan hemat. Berikut ini hasil rangkuman dari beberapa sumber:

Tips menghemat listrik untuk penerangan:

  1. Matikan lampu bila ruangan tidak digunakan
  2. Pergunakan LHE, kurangi penggunaan lampu pijar
  3. Buka gorden atu tirai di siang hari hingga penerangan alami bisa digunakan
  4. Bersihkan lampu yang berdebu, karena debu bisa mengurangi tingkat penerangan

Tips Menghemat Pemakaian Listrik Untuk Kulkas:

  1. Terlalu sering membuka pintu kulkas akan menyebabkan kinerja kompresor meningkat sehingga konsumsi listrik akan meningkat pula.
  2. Pintu kulkas harus ditutup rapat, buka hanya jika diperlukan
  3. Atur suhu kulkas sesuai kebutuhan
  4. Jangan memasukkan makanan dan minuman yang masih panas
  5. Tempatkan kulkas jauh dari sumber panas

Tips Menghemat Listrik di Mesin Cuci:

  1. Fasilitas pengeringan pada mesin cuci mengkonsumsi listrik lebih besar daripada fungsi pencuciannya. Maka pergunakan fungsi pengeringan sewajarnya atau memanfaatkan sinar matahari jika cuaca sedang terik
  2. Gunakan mesin cuci bila cucian banyak
  3. Hindari penggunaan fasilitas pengeringan dari mesin cuci, pergunakan panas matahari untuk pengeringan secara alami

Pompa Air:

  1. Gunakan pompa air untuk mengisi penampungan, bukan mengalirkan air ke rumah (bak mandi, mesin cuci, dsb)
  2. Gunakan pelampung air otomatis sehingga listrik akan terputus dan pompa berhenti bekerja jika bak sudah penuh.

Tips Menghemat Listrik dalam Penggunaan Komputer:

  1. Penggunaan screensaver saver pada monito saat komputer tidak aktif digunakan, sebenarnya tidak banyak mengurangi konsumsi listrik. Lebih baik jika monitor dimatikan.
  2. Sebaiknya matikan layar monitor daripada memposisikan ‘Standby mode’ apabila sedang istirahat.
  3. Hindari penggunaan screensaver, karena akan merubah setting layar monitor untuk selalu aktif.
  4. Pergunakan resolusi display dan brightness yang rendah.
  5. Sebaiknya pergunakan wallpaper dengan warna hitam
  6. Mengatur ‘power setting’ agar monitor dapat menset power ‘off’ secara otomatis
  7. Matikan komputer (CPU) bila tidak digunakan dalam jangka waktu lama.

Tips Menghemat Listrik dalam Penggunaan AC:

  1. Menggunakan fungsi timer dengan benar dapat mengurangi penggunaan AC yang tidak sesuai dengan kebutuhan
  2. Matikan AC bila ruangan tidak digunakan dalan waktu lama
  3. Tutup pintu dan jendela jika AC sedang menyala
  4. Atur suhu AC sesuai kebutuhan, sekitar 23-25 derajat celsius, semakin dingin suhu makin besar konsumsi listriknya.
  5. Pergunakan kaca film pada jendela ruangan
  6. Gunakan timer untuk mengatur pemakaian agar sesuai kebutuhan
  7. Bersihkan AC secara berkala
  8. Bila perlu, untuk menghemat, ganti AC dengan kipas angin gantung atau exhaust fan. Keduanya jauh lebih murah daripada AC yang sangat menyedot beban listrik

Tips Menghemat Listrik dalam Penggunaan Speaker:

  1. Memperbesar volume speaker TV, radio secara tidak langsung akan memperbesar konsumsi listrik dan akan memperbesar biaya listrik Anda.
  2. Atur volume sesuai kebutuhan
  3. Sebaiknya matikan alat jika tidak digunakan, hindari penggunaan ’standby mode’
  4. Jika tersedia, pergunakan fungsi timer sebaik-baiknya untuk mengatur pemakaian peralatan
  5. Bila perlu, gunakan stop kontak dengan saklar on/off, agar lebih mudah mematikan peralatan listrik.

Tips Hemat Air:

  1. Jangan biarkan keran air mengalir kalau tidak dipakai. Kabarnya, air yang mengalir dari keran mencapai kira-kira 9 liter setiap menit nya.
  2. Periksa pipa dan keran air secara teratur. Segera perbaiki bila ada yang bocor.
  3. Sebaiknya cuci piring dengan baskom berisi air. Cara ini lebih hemat air ketimbang mencuci dengan air mengalir.
  4. Cuci sayuran dan daging secara terpisah dalam wadah yang sudah diisi sebanyak kurang lebih 4 liter air. Anda boros air 15 kali lebih banyak bila melakukannya di bawah air yang mengalir.
  5. Pakai lap dan seember air bila mencuci mobil. Jangan pakai selang air.
  6. Tutup keran saat menyikat gigi. Hanya nyalakan air saat membasahi dan membilas sikat gigi serta berkumur.
  7. Lebih baik mandi dengan shower yang disetel dengan daya pancur sedang ketimbang dengan gayung. Anda bisa hemat air sampai sepertiganya.
  8. Bila mempunyai mesin cuci, masukan pakaian dengan memaksimalkan kapasitas mesin cuci tersebut. Ini membuat Anda menghemat air dan energi
  9. Gunakan air bekas yang mengalir dari mesin cuci untuk mencuci lantai.

Tips Hemat BBM:

  1. Panaskan mesin secukupnya, 30-45 detik sudah lebih dari cukup.
  2. Dari keadaan stop, tekan gas dengan halus, maksimal ¼ pedal.
  3. Maintain RPM rendah dengan memindahkan ke gigi yang lebih tinggi.
  4. Manfaatkan laju kendaraan dan tekan gas lebih sedikit.
  5. Maintain kecepatan yang stabil. Gunakan cruise control bila memungkinkan.
  6. 70-90 km/jam adalah kecepatan yang paling ekonomis untuk di jalan tol. Kurang atau lebih dari ini akan mengurangi efisiensi per kilometer yang Anda tempuh.
  7. Gunakan A/C seperlunya. Matikan A/C beberapa menit sebelum Anda sampai tujuan.
  8. Pada waktu macet, Anda dapat menghemat BBM dengan mematikan mesin apabila berhenti lebih dari 2 menit.
  9. Tutup jendela waktu mobil berjalan dan hemat BBM 10%, jendela yang terbuka akan memperbesar tahanan angin.
  10. Isi BBM pada pagi atau malam hari. BBM akan lebih padat pada suhu yang lebih sejuk dan meteran di pom bensin hanya menghitung volume, bukan kepadatan BBM.
  11. Hindari pengisian hingga luber dan pastikan tutup bensin hingga rapat.
  12. Hindari memainkan gas yang tidak perlu.
  13. Gunakan jalan yang lebih halus, jalan kasar yang banyak kerikil membutuhkan BBM 30% lebih boros.
  14. Jaga tekanan ban yang maksimal sesuai ketentuan mobil Anda dan hemat BBM sampai dengan 15%.
  15. Perawatan dan tune-up rutin akan menjaga mobil yang ekonomis. Spark plug yang sudah jelek dapat memboroskan BBM sebanyak 30%.
  16. Keluarkan barang berat yang tidak perlu dari mobil Anda. Mobil lebih ringan akan hemat BBM.

Nah, para ibu, bapak, om, tante, teteh, aa’, kakak, adik, semuanya, ayo mulai lebih bijak dalam perilaku sehari-hari kita. Jadi ingat slogan 3M-nya aa’ Gym nih: mulai dari hal yang kecil, mulai dari kita sendiri, mulai dari sekarang. Yukkk… :D

Sumber:

http://detikfinance.com

http://www.supporterwwf.org

http://juraganmobil.com

Minggu, 10 Januari 2010

blue

Dokumen >>> cahyamars2008






Bagaimana bila masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya diberi pilihan untuk tidak bergantung lagi pada minyak bumi sebagai bahan bakar penghasil energi? Terlebih dengan isu-isu pemanasan global, dampak rumah kaca dan krisis minyak yang kian hari kian nyata dirasakan. Belum lagi semakin mengganasnya tuntutan memperoleh energi dalam jumlah besar, baik untuk keperluan konsumsi ataupun pembangunan yang juga terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dunia.
Sudah banyak upaya yang dilakukan ilmuwan untuk mendapatkan berbagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tentu saja dapat diperbarui. Akan tetapi sampai sekarang, belum terbukti ada yang bisa diproduksi secara massal dan masuk akal secara ekonomis, sehingga bisa digunakan oleh khalayak luas.
Sebuah studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Indonesia telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan bagi masyarakat dunia, terutama Indonesia yang memiliki sejumlah besar sumber energi alternatif yang bersih dan dapat diperbarui. Studi ini telah menghasilkan suatu sumber energi alternatif yang disebut Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu (MIB).

Apakah Blue Energy itu ?

Istilah Blue Energy untuk menamai sumber energi baru ini dicetuskan sendiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menaruh harapan sangat besar pada proyek ini. Menurut SBY, istilah Blue Energy beliau gunakan untuk mengkategorikan energi yang masih memancarkan atau mengeluarkan emisi karbon. Sehingga setiap energi yang masih memanfaatkan Carbon Based with Combustion (rantai karbon dengan mesin bakar) akan masuk kategori Blue Energy.

Jadi seperti apa sebenarnya wujud dari Blue Energy ini?
Sampai saat ini memang masih banyak yang salah paham, bahwa yang dimaksud dengan Blue Energy adalah bahan bakar air. Padahal yang sesungguhnya terjadi, air hanya akan diambil unsur hidrogennya saja sebagai bahan pembuat synfuel.
“Pada prinispnya Blue Energy atau MIB adalah bahan bakar sintetik atau biasa disebut synfuel, yang dibuat dari substitusi molekul hidrogen pada rantai karbon. Proses pembuatannya pun sebenarnya mengadaptasi proses pembentukan minyak fosil di dalam bumi”,demikian ungkap Iswahyudi, CEO PT Sarana Harapan Indocorp (SHI) yang nantinya akan memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan Blue Energy ini. “Jadi ada dua unsur, hidrogen dan karbon sebagai bahan dasar.” Seperti minyak bumi biasa.
Hidrogen dapat diperoleh diantaranya dari air daratan (deep water, sungai, danau, dan lain-lain), air laut , dan air formasi. Air formasi adalah air buangan sisa pengeboran sumur minyak, air sisa dari separator dan water injection. Termasuk di sini air limbah dari Lapindo (bukan lumpurnya). Bahan yang digunakan dalam proyek Blue Energy ini adalah air laut, dengan pertimbangan resourcesnya yang tak terbatas dan tentu saja mengambil air laut tidak akan mengganggu cadangan air. Untuk mendapatkan hidrogen dari air laut dilakukan ‘pemecahan air’ (water splitting) Air sejumlah 2000 liter ditambah antara 3-8 kg karbon dapat menghasilkan 1600 liter Blue Energy.
Sementara itu, karbon dapat diperoleh dari bermacam-macam bahan, seperti kayu atau sisa-sisa kayu, arang, batubara, hasil dari carbon capture cerobong industri-industri yang dilarutkan ke dalam air, bisa juga dari air formasi sumur-sumur minyak yang sudah ditinggalkan karena dianggap sudah tidak ekonomis. Tim Blue Energy sendiri sampai saat ini menggunakan karbon kimia yang mudah didapat dan cukup ekonomis juga“. Sebenarnya kalau mau efisien dan juga lebih ramah lingkungan, kita bisa memakai carbon capture. Tetapi alatnya masih harus impor, karena belum ada orang Indonesia yang mau bikin. Sedangkan kita ingin MIB ini sebisa mungkin benar-benar murni hasil karya putra-putra bangsa”, lanjut Iswahyudi, lulusan tercepat Teknik Geologi FT UGM angkatan 1988 itu.
Kita ingin MIB ini benar-benar murni hasil karya putra-putra bangsa






Pembentukan Minyak dan Blue Energy

Selama ini sering kita dengar bahwa proses pembentukan minyak fosil yang ada di dalam bumi memerlukan waktu jutaan tahun. Benarkah demikian? “ Coba sebut geologist mana yang pernah melihat langsung atau membuktikan secara pasti bahwa proses atau reaksi pembentukan minyak itu butuh waktu jutaan tahun”, ujar Iswahyudi menantang sembari menambahkan “lha wong, terjadinya saja sekitar 12000 feet atau 4000 m di dalam bumi”.
Reaksi pembentukan minyak terjadi di suatu tempat yang dalam bahasa geologi dikenal dengan nama kitchen. Tempat di kedalaman bumi itu memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi antara karbon dan hidrogen, yang merupakan dasar pembentukan minyak. Setelah reaksi dan terbentuk di kitchen, minyak masih akan mengalami migrasi menuju di suatu tempat yang disebut trapping mechanism, di mana minyak biasa ditambang.
Lebih lanjut Iswahyudi menjelaskan “Menurut saya, yang jutaan tahun itu bukan proses terjadinya minyak, tetapi proses tertimbunnya ‘calon minyak fosil’ ribuan meter ke dalam bumi supaya mendapatkan kondisi geologi yang tepat di kitchen, dan secara fisika tercapai suhu, tekanan dan kondisi-kondisi fisis tertentu agar dapat terjadi reaksi antara hidrogen dan karbon”.
Dia menyebutkan Candi Borobudur dan Kerajaan Kutai sebagai pengandaian. Sekarang Borobudur dan Kutai sudah berusia sekitar 2000 tahun atau bahkan lebih, dan bagian yang sudah mulai tertimbun hanyalah sekitar satu meter saja. Maka waktu yang dibutuhkan untuk bisa tertimbun sedalam 4000 m bisa diperkirakan mencapai jutaan tahun.
“Dan buktinya, kita sudah mencoba dan berhasil mereaksikan hidrogen dan karbon dalam waktu yang singkat”, katanya ringan.
Memang di dunia sudah banyak yang berhasil menciptakan synfuel dengan bahan dasar air. Akan tetapi hingga sekarang, tidak ada yang diproduksi secara massal dan dapat digunakan secara umum oleh masyarakat. Hal ini terutama disebabkan oleh cost produksinya yang sangat mahal, dan tentu saja isu efisiensi antara energi yang diperlukan pada proses pembuatan synfuel dan energi yang dapat dihasilkan oleh synfuel itu sendiri.
Pemisahan hidrogen dari air (water splitting) menjadi isu tersendiri, mengingat selama ini H2O dikenal sebagai senyawa yang stabil. “Orang bilang elektrolisis mahal, tapi dengan cara kita, itu jadi murah”, tutur Iswahyudi.
Problematika yang juga selama ini masih menjadi puzzle bagi para peneliti adalah, bahwa reaksi yang terjadi dalam pembentukan synfuel ini adalah reaksi endoterm. Dengan kata lain, reaksi ini memerlukan energi agar dapat terlaksana. Pada proses pembentukan minyak fosil di alam, energi ini bisa datang dari panas bumi. Tentu saja energi ini harus murah. Karena akan menjadi sama saja jika yang digunakan masih dari sumber-sumber konvensional yang kita kenal sekarang.
“Mahal dan murah itu masalah efisiensi. Energi yang biasa kita pakai, dalam hal ini sebagai contoh yang paling mudah dan dekat adalah listrik, sangat tidak efisien. Suatu pembangkit membutuhkan 8 step dari mulai pembakaran sampai akhirnya terjadi loncatan elektron dari coil. Bayangkan jika setiap step rata-rata memiliki efisiensi 0,6. Maka efisiensi total yang akan diperoleh adalah (6 x 10-1)8. Kecil sekali bukan?” Masih menurutnya lagi “Tentu saja kita tidak akan menggunakan model energi yang seperti itu. Kalau saya bisa memotong 8 step itu menjadi 1 step saja, berarti saya mendapatkan efisiensi yang kira-kira 107 kali lebih besar bukan? Jika bicara tentang listrik, sebenarnya itu kan loncatan elektron. Dan jika kita bisa menangkap loncatan itu, ya kita punya listrik.
Mudahnya, kita memiliki teknologi untuk menangkap elektron-elektron yang meloncat dari material”. Pada kesempatan lain, dia menambahkan, dengan metode yang lebih efisien dia berani menghargai listrik Rp.75,00 saja per kwh, dan itupun dia sudah bisa tersenyum karena dengan harga itu dia sudah untung
Mahal dan murah itu masalah efisiensi. Energi yang biasa kita pakai, dalam hal ini sebagai contoh yang paling mudah dan dekat adalah listrik, sangat tidak efisien
Energi yang diperlukan untuk terlaksananya reaksi ini memang penting. Akan tetapi ada satu hal yang menurut Iswahyudi tak kalah pentingnya, yaitu bagaimana menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi tersebut pada energi tertentu atau dengan kata lain merekonstruksi keadaan di kitchen. Termasuk dengan menambahkan katalisator yang diperlukan. “ Jangan khawatir, katalisatornya pun banyak kog, dibuang-buang, cari di pasar juga banyak itu”, kata Iswahyudi sambil bercanda.
Saat ini produk yang sudah dihasilkan oleh Tim Blue Energy ini adalah kerosene (K-99) yang setara dengan minyak tanah, diesel (D-99, D-99 bio, dan D-99 Plus dengan Cetane di atas 55) yang setara dengan solar, gasoline (G-99, G-99 bio, dan G-99 Plus dengan Oktan 98) yang setara dengan bensin, dan juga heating oil atau minyak bakar (H-99).
Sebagai catatan, semua proses yang dilakukan, dari bagaimana mendapatkan energi sampai reaksi-reaksi yang terjadi, secara teori sudah ada di ilmu fisika dan kimia dasar.

Performa Blue Energy

Pada Minggu sore tanggal 25 November 2007 yang lalu, rombongan kendaraan berbahan bakar Blue Energy berangkat dari kediaman SBY di Puri Cikeas Indah. Tujuan dari rombongan ini adalah Bali, di mana mereka akan mengikuti eksebisi clean air, clean fuel and clean vehicle berkaitan dengan diselenggarakannya Konferensi Internasional Climate Change pada tanggal 3-14 Desember 2007. “Keikutsertaan kita adalah untuk menunjukkan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi, khususnya mengenai bahan bakar”, kata Heru Lelono, staf ahli presiden, yang menjadi ketua tim pada waktu itu.
Jenis mobil yang masuk dalam tim antara lain dua Ford Ranger 2500 cc, satu Isuzu Panther 2500 cc diesel, satu Mazda Familia 1800 cc serta satu Bus Mitsubhisi 4000 cc“. Seluruh mobil itu bisa sampai di Denpasar, dan langsung dicek di bengkel yang dilengkapi dengan alat uji emisi dari PBB. Hasilnya, seluruh mobil dalam kondisi yang sangat baik”, jelas Heru. Pada kesempatan yang lain, Tim Warta Teknik juga berkesempatan menjajal langsung Mazda Familia yang menggunakan bahan bakar G99, dan tidak merasakan adanya perbedaan performa dengan kendaraan yang memakai bahan bakar bensin biasa. Kendaraan ini sudah memakai Blue Energy sejauh kira-kira 4000 km, dan tidak menemui masalah dengannya.
Tim ekspedisi Blue Energy juga pernah mencoba menggunakan D99 pada mesin Diesel di Dataran Tinggi Dieng yang terkenal sangat dingin dan bisa membekukan solar. Semalaman di sana paginya ternyata langsung bisa di start.
Berikut ini hasil tes yang dilakukan oleh beberapa lembaga independen yang telah mendapat pengakuan internasional seperti SGS, Corelab, dan Envirolab.
Tabel di atas bukan hasil tes final. Riset masih terus berjalan untuk penyempurnaan. Saat berita ini ditulis, baru saja ditemukan metode untuk memisahkan sulfur dari diesel. Dan D-99 generasi ke 14 dari riset ini benar-benar jernih.[bma]

Sabtu, 09 Januari 2010

Net

disalin dari >>> sarimingeek.com
Indonesia termasuk kategori negara yang paling boros menggunakan energi listrik yang terbukti dengan sering terjadinya pemadaman listrik secara bergilir oleh PLN.

Dari segi penataan instalasi jaringan listrik pun kita tergolong masih mengkesampingkan keselamatan orang lain, memang sekarang ini penataan jaringan listrik masih terbilang sangat sedikit dan masih wajar-wajar saja akan tetapi bagaimana jadinya bila itu terlihat di 10 atau 15 tahun mendatang?

akankah PLN akan membuat installasi listrik seperti gambar dibawah ini?












SOLAR CELL

disalin dari >>> cahyamars2008 

Di bawah ini ialah paparan singkat mengenai hal-hal umum yang turut berkontribusi pada harga sel surya yang pada akhirnya dibebani kepada konsumen.

1. Biaya produksi pembuatan sel surya.

Jika kita melihat proses pembuatan sel surya dengan mengambil contoh sel surya silikon yang menempati 90% pangsa pasar sel surya saat ini, maka terlihat adanya proses produksi yang melibatkan modal besar (high capital), yakni industri semikonduktor. Industri semikonduktor ini masih merupakan industri padat modal karena bersandar pada pembuatan dan penyediaan silikon, lebih tepatnya wafer silikon. Sejatinya, silikon sendiri ialah elemen terbanyak kedua di kulit bumi setelah oksigen, sehingga harganya relatif rendah.
Hanya saja, dengan kebutuhan industri semikonduktor yang meminta kadar kemurnian silikon sangat tinggi, sekitar 1 bagian per milyar (1 ppb), biaya pemrosesan silikon untuk semikonduktor menjadi berlipat-lipat. Proses pembuatan silikon sejak dari penambangan, pemurnian dan pemotongan inilah yang memilki andil sekitar 65% dari total harga sebuah sel surya. Data tahun 2004 mengenai harga silikon dunia dengan kadar tersebut kira-kira US$ 50/kg dan terus meningkat dikarenakan adanya permintaan industri semikonduktor maupun elektronik. Pemrosesan seperti pembuatan sel dan enkapsulasi sel surya masing-masing menyumbang 10 dan 25% dari total harga sel surya.


sel-surya-komposisi.jpg

Secara kasar, saat ini, harga sebuah sel surya sekitar US$ 4-5/Watt, belum termasuk pendukungnya. Sehingga jika seorang konsumen hendak membeli sel surya dengan daya 50 Watt, maka perlu menganggarkan biaya sekitar US$ 200-250 (lihat tabel di akhir tulisan).
Agak sedikit melebar, lantas, bisakah kita membuat industri sel surya sendiri agar sel surya bisa lebih mudah terjangkau di pasar sendiri?
Pada dasarnya tentu saja hal ini sangat mungkin dengan beberapa catatan menurut opini saya.
Pertama, pembuatan silikon untuk sel surya atau semikonduktor ialah sebuah usaha padat modal yang sangat besar dari segi investasi. Dan tidak semua negara di dunia yang mampu secara teknologi melakoni pekerjaan besar ini, hanya beberapa negara saja yang mampu membuat silikon dengan kadar yang dibutuhkan maupun wafer silikon, semisal, Amerika, Jerman, Jepang dan Korea. Selain itu, industri pembuatan silikon berkadar tinggi maupun pembuatan wafer silikon ini juga menyedot tenaga listrik yang cukup besar. Namun mengingat bahan dasar silikon seperti pasir silika ini mudah ditermui di Indonesia (lihat kutipan berita Kompas di Blog ini) , dengan dukungan investor dan pemerintah, saya kira kita cukup mampu dalam hal ini. Masak calon PLTN Muria yang heboh 80 trilyun saja kita menyanggupi, membuat sebuah pabrik wafer silikon saja kurang mampu?
Kedua, jika dalam jangka pendek tujuannya ialah memasarkan sel surya sebanyak mungkin, maka kita perlu meniru langkah China dalam memasarkan sel surya di negaranya. Industri-industri China tidak membuat material dasar silikon untuk sel surya ini. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat mesin-mesin yang dipergunakan pabrik-pabrik mereka untuk membuat sel surya dalam skala besar.
Hanya saja, strategi mereka ialah, mengimpor mesin-mesin pabrik dari Jerman sebagai bahagian dari investasi, serta mengimpor material silikon khusus untuk sel surya dari negaa-negara lain semisal, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Keunggulan komparatif upah pekerja yang murah, membuat sel-sel surya made in China saat ini merajai pasaran sel surya Eropa selain menjadi tuan rumah di negara sendiri. Hal ini saya saksikan sendiri dalam ajang PVSEC-15 di Shanghai, China. Mungkin strategi ini dalam jangka pendek bisa diterapkan di Indonesia. Namun kembali lagi, kita masih menunggu peran investor dan negara dalam hal ini.

2. Biaya perangkat dan pelayanan pendukung.

Memanfaatkan sel surya untuk keperluan apapun membutuhkan perangkat pendukung yang disebut Balance of System (BOS) yang biasanya terdiri atas baterei, inverter, biaya pemasangan serta infrasturktur (lihat gambar berikut). Di sini peran BOS sangat penting sehinga semua ini (Sel surya + BOS) disebut dengan sistem fotovoltaik. Baterei serta pegontrolnya diperlukan untuk meyimpan tenaga listrik untuk pemakaian di malam hari jika diperlukan. Inverter dibutuhkan untuk mengubah keluaran sel surya yang berarus DC menjadi AC sesuai dengan keperluan perumahan. Dan instalasi diperlukan untuk menyelaraskan bentuk (atap) rumah dengan berapa luas sel surya atau daya yang dibutuhkan agar optimal.

bipv-structure-2.jpg

Gambar di bawah ini sedikit menggambarkan berapa porsi anggaran yang dibutuhkan pada saat pemasangan dan perbandingannya pada 20 tahun kemudian. Asumsi memakai 1300 Watt menggunakan baterei 35 Ah. Literatur ini menggunakan negara Meksiko sebagai contohnya.

harga-bos.jpg

Di sana terlihat bahwa komponen baterei yang memiliki masa pakai optimum yang terbatas (sekitar 4 tahun), memerlukan perhatian khusus terutama karena adanya penambahan biaya ekstra untuk penggantian baterei baru.
Secara perhitungan kasar, harga Sel surya + BOS ini mencapai US$ 8-10/Watt. Sehingga jika hendak menggunakan sel surya di perumahan lengkap dengan sarana pendukungnya untuk 1300 Watt atau 1.3 kW, maka biaya kasar yang perlu diperlukan kira-kira 1300 Watt x (US$ 8 – 10) = US$ 10.400 – 13.000 atau jika di-rupiah-kan sekitar Rp 98.880.000 – 117.000.000 dengan masa pakai 20 tahun lebih dan biaya tambahan untuk penggantian baterei per 4-5 tahun sekali.
Tabel di bawah merupakan simulasi perhitungan biaya yang diperlukan untuk memasang sel surya di sebuah rumah dengan kapasitas daya terpasang sebesar 50 Watt. Jika hendak memasang sel surya di rumah dengan daya 1000 Watt mirip dengan rata-rata daya terpasang pada rumah di Indonesia dari PLN, maka harga total tinggal dikalikan saja dengan 20.

tabel-harga-sel.jpg

Semoga bermanfaat.

Rujukan :
Antonio Luque and Steven Hegedus, Handbook of Photovoltaic Science and Engineering, John Wiley and Sons, 2003.
Yasuto Maruoka, Cost effectiveness of solar modules on the international photovoltaic markets, Proceedings of 17th International Photovoltaic Science and Engineering Conference, Fukuoka, Japan, December 2-7, 2007.

listrik

Dokumen cahyamars2008.wordpress.com


penghematan energi adalah salah satu cara yang mungkin paling mudah untuk menyiasati berkurangnya pasokan BBM bagi pembangkit listrik di Indonesia.

Terkait dengan penghematan energi listrik tersebut, Cahya_mars bermaksud untuk berpartisipasi menyediakan fasilitas listrik alternatif di Kota Tulungagung dengan berbagai macam produk yang kami miliki

menyediakan jasa penjualan peralatan hemat listrik diantaranya :

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS )
Listrik yag dihasilkan berasal dari sinar matahari tersebut dapat menyalakan lampu 10 Watt sebanyak 3 Unit dalam waktu 10-12 Jam (pemakaian hemat) dapat bertahan selama 3 hari (apabila tanpa matahari/hujan/mendung). Dapat menghemat untuk kebutuhan Listrik rumah dan cocok untuk Back-Up, BTS,Pedesaan, Hutan dll yang jauh dari aliran listrik PLN.




b. Pembangkit Listrik Kincir Angin ( PLKA )
Listrik yang dihasilkan dari kincir angin, sosok untuk daerah pesisir dan pegunungan

c. Pembangkit Listrik Micro Hidro ( PLMH )
Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro merupakan alat yang menghasilkan listrik dengan menggunakan sumber tenaganya air
Pembangun PLTMH secara terpadu dengan kolam ikan memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik




d. Peralatan komputer hemat Listrik (hanya 3 Watt)

PC-Station adalah sebuah teknologi terbaru yg dpt memaksimalkan sebuah komputer
hingga dapat digunakan secara bersamaan dengan 30User/clien.
Sehingga anda tidak perlu menambah PC / CPU dalam penambahan user/clien.
Dengan menggunakan penghubung swithub/rooter dapat digunakan hingga jarak 100M

Digunakan Untuk kantor, Warnet, Laboratorium, selain hemat litrik juga dapat menghemat biaya pembelias program aplikasi original.
Kami menyediakan produk PC Station, berfungsi sebagai pengganti cpu/client dengan daya listrik 3watt ( bandingkan dengan komputer
dengan daya listrik 150watt hingga 200watt)



Dimana ya ?

 
Powered by Blogger